Gone Girl (2014): Salah satu contoh bahwa cewek memang mengerikan

https://s3.amazonaws.com/red_3/uploads/asset_image/image/5422fadc1e65c35c5800017d/Gone_Girl.jpg

Sebenernya udah beberapa bulan yang lalu nonton film ini, bahkan sebelum PK (2014), tapi belum menemukan kalimat-kalimat yang tepat untuk membahas film ini. Namun di suatu pagi yang cerah saat jongkok di atas kloset tiba-tiba kepikiran film ini lagi. Benar sekali, ide bisa muncul kapan dan dimana saja. haha.

Buat pria yang memiliki pasangan, pastilah sering mengalami perasaan nggak nyaman, salah satunya karena pasangan kita bawel dan cerewet atau pasangan yang terlalu pasif sehingga tampak monoton. Yang pada akhirnya menimbulkan penyimpangan hubungan alias selingkuh. Aman-aman saja jika pacarmu orangnya enggak pedulian atau pendiam. Eits jangan senang dulu, bagaimana jika pasanganmu yang pendiam itu seorang sosiopat?

Tanpa bermaksud spoiler, ending film ini akan tampak menjengkelkan, tapi jika dilihat dari sisi lain, kita bakal sadar, apapun keputusan kita, janji dan komitmen yang telah kita buat, kita harus menerima segala resikonya di kemudian hari, tanpa perlu menyesalinya. Khususnya ketika kita memutuskan untuk mencintai seseorang.

(7.5/10)

Penyebar brosur

gambar ambil dari sini

Siapa sih yang nggak pernah ngeliat penyebar brosur dipinggir jalan? Ya, kecuali kamu yang udah lama hidup di pedalaman hutan kalimantan.

Gegara kemarin ada penyebar brosur yang ngucapin “Terima Kasih” ketika brosurnya saya tangkap dengan kecepatan motor yang cukup cepat, saya jadi keinget kejadian saat baru saja lulus SMA. Waktu itu ketika saya ada di antara kebimbangan, mau kerja apa kuliah. Karena saya merasa udah lelah banget untuk sekolah lagi. wkwk Continue reading

Koala Kumal: tentang sesuatu yang tak lagi sama

Baru sempat menulis tentang buku ini.  Udah 3 tahun lebih Raditya Dika tidak menulis buku dan lebih memilih mencoba hal baru, standup, main film dan jadi sutradara. Isi bukunya tetep berisi tentang keresahan dia, khususnya tentang cinta. Premis buku ini cukup menarik, karena terinspirasi dari sebuah foto seekor koala yang lagi iseng maen ke hutan sebelah dan pas balik hutannya sendiri udah berubah. Tentang hal-hal yang kita dulunya sangat terbiasa, lalu kita tinggalkan, dan pas kembali ternyata hal itu sudah berubah.

Nah kemarin ada kejadian yang saya inget untuk nulis tentang buku ini, saat nggak ada lauk di rumah, saya mencari apa yang bisa ditambahkan buat nasi dan tempe saya di piring ini. Kebetulan mayonnaise mayumi yang saya beli kapan hari udah habis.

Lalu adek saya nimbrung “mau dikasih mayo?”

“Hah? Emang ada?”

Adek saya menunjuk lemari dan di dalamnya ada mayones botolan merek mamamintapulsasuka. Dulu, saya pikir mayones ini udah habis, eeeh ternyata tempatnya dipindahin sama ibuk.Inilah alasan kenapa saya suka sebel kalo ibuk merapikan kamar saya yang berantakan. Karena seberantakan kamar saya, saya tau lokasi benda yang saya taruh.

Oiya, tentu saja mayonesnya nggak seperti yang dulu lagi. Yaiyalah udah expired sejak Juni 2014. Baunya kek bau ketek gorila :ngakaks

Ngomongin tentang yang nggak lagi sama, jadi inget tahun kemarin itu saya kontakan lagi dengan Yorin, dan ya gitu itu… rasanya bertemu dengan orang lain. Semua hal memang selalu berubah.

Hal yang tidak pernah berubah adalah perubahan itu sendiri

(4/5)

Hei

http://userserve-ak.last.fm/serve/500/97784601/Aya+Anjani+BjggeUmCEAAZQMm.jpg

Di suatu hari yang sangat galau, saya mencoba memperbanyak following akun soundcloud saya. Salah satunya adalah Aya Anjani, cuman beberapa lagu Jepang cover-an dia yang saya dengerin. Hingga suatu hari dia me-repost lagu originalnya yang di-cover orang. Lagu itu berjudul Hei. Lagunya enak banget. Liriknya pun keren. Saya nyoba cari-cari versi originalnya, tapi dia cuman ngepost versi demo/short aja di akun soundcloud. Nyari di google pun nemunya malah ke iTunes, yang pastinya berbayar dong. haha.

Tapi, setelah berpikir panjang, hmm. Sesekali beli gak apa-apa deh. Apalagi saya belum pernah beli lagu secara legal lewat digital. Kalau beli fisik sih beberapa kali. Setelah saya pikir masak-masak, saya akhirnya beli lewat 7digital.com karena bisa diunduh dengan format MP3 dan M4A. Bayarnya pun gampang, pake paypal.

Jadi setelah beli, bisa pamer di fesbuk karena sudah menjadi orang baik mendukung musisi dengan membeli lagunya secara legal. :D

Salah satu bait lirik lagu ini yang ngena banget menurut saya adalah “masihkah kalian tertawa pada lelucon yang sama”. Kalau gak salah interpretasi lagu ini menggambarkan hubungan kita dengan teman-teman lama kita gitu. Soalnya bait itu ngingetin saya pada suatu acara reuni, ada satu temen yang diem saat kami pada guyonan. Dia merasa guyonan kami masih kekanak-kanakan, meskipun emang iya. Hahaha.

Jadi nggak nyesel saya beli lagu single ini. Meski beberapa hari kemudian, mbak Aya Anjani mengunggah lagu ini versi full di soundcloud-nya. :hammer: iya kampret banget. haha