Black Mirror S03E06: Hated in The Nation

Maaf ulasannya lompat tapi ini keknya lagi mengena khususnya yg lagi trending. Yang mau baca sebelumnya bisa cek posting sebelumnya.

Black Mirror S3 Eps 6: Hated in The Nation

[SPOILER ALERT!]

Settingnya tidak jauh dari masa depan, tapi gak jauh beda sama sekarang, dimana dengan entengnya orang-orang bisa menghujat orang lain yang berbuat kesalahan, misalnya artis yang membully orang miskin. Dengan mudahnya orang-orang tulis status di medsos “mati aja lo artis sampah!” atau “dasar artis vampir sarap!”
Mendadak di medsos ada akun anonim memposting sebuah video tutorial “Game of Consequences” yang isinya kalo benci sama orang cukup tulis status/twit “#DeathTo [nama_orang] [foto]” untuk voting dan orang yang dapet vote terbanyak konsekuensinya adalah ‘mati’. Wajar dong yang namanya manusia, banyak yang ikutan, meski cuman iseng atau cuman dengan dalih “di medsos gue bebas nulis apa aja”
Ternyata artis yang dimaksud mati beneran. 😱
Hal itu terus belanjut hingga semua orang bisa jadi hakim (judge) dan menghakimi (tanpa ampun) orang yang (menurutnya) salah.
Tinggal update status doang coy!

Hingga akhirnya polisi menemukan cara untuk menghentikan permainan tersebut. Tapi ternyata konsekuensi yang dimaksud dalam “Game of Consequences” bukan orang yg mati karena voting justru hal itu cuman pancingan.
Yang menerima konsekuensi adalah orang-orang yang nge-voting. “Kalau elo pengen orang lain mati, elo juga harus siap mati juga”
Alhasil ada 300.000-an pengguna medsos yang mati, termasuk yang cuman iseng-iseng aja, padahal orang yg divoting/dihakimi baru 3 yang mati. hahaha. Syurem bukan?

*mendadak ngebayangi orang-orang yang lagi rame di medsos dan media berita itu mendapatkan konsekuensinya*
😱😱😱

Black Mirror S03E01: Nosedive

Serial Black Mirror Season 3 ini Mindblowing banget. Serial tipe antologi jadi tiap episode punya cerita sendiri (jadi gak perlu nonton season sebelumnya). Tapi serial ini punya satu tema utama, ‘techno-paranoia’, tentang ketakutkan akan kemajuan teknologi (tidak jauh di masa depan) dan konsekuensinya.
Aku mau ceritain tiap episodenya (sehari sekali, ada 6 episode), Jadi yang nggak mau spoiler gak perlu dibaca hhh.

Episode 1. Nosedive.
Pernah denger ide program Rapor Warga-nya Ridwan Kamil? yang tiap warga Bandung bisa memberikan penilaian terhadap warga lain. Nosedive bercerita tentang ini tapi dengan teknologi yang lebih tentunya. Dimana semua orang bisa memberikan rating ke orang yang ditemuinya dengan nilai 1 sampai 5 bintang melalu ponsel. Semua warga pakai softlens jadi ketika memandang orang lain bisa muncul rating yang diperoleh orang itu. Dengan adanya program ini semua orang diharuskan bertindak ‘sopan’ dan hati-hati bahkan ke pelayan restoran sekalipun. Nyenggol orang lagi jalan aja bisa dapet rating 1 dari orang yg elu senggol. Jadilah suasana perkotaan yang damai dan semua warga saling menyapa dan ramah.

Nah, yang berbahaya adalah ketika rating itu jadi patokan ‘kelas’ seseorang. ‘Kelas’ tidak lagi diukur dengan uang/kekayaan saja. Jadi elu gak bakal bisa beli rumah di kawasan elit kalau ratingmu di bawah 4.5 meski punya duit. Gak boleh masuk gedung tertentu kalau ratingnya di bawah 3. Dan yang lebih parah tidak bisa berobat karena ratingnya rendah.

Hal yang mengerikan kedua adalah, adanya circle (lingkaran) pertemanan, orang-orang yang ratingnya tinggi tentu maunya berkumpul dengan yang rating sama tinggi. Dan yang rendah berusaha mati-matian berteman dengan yg rating tinggi, karena vote ‘5 bintang’ dari orang rating tinggi lebih berharga ketimbang vote dari orang yg ratingnya rendah.

Dari yang aku liat proses perhitungan ratingnya didasari 3 variabel: Anonymity, kepentingan, dan rating pemberi nilai. Anonymity, kita bisa memberi rating secara anonim tapi tentu saja nilainya lebih rendah alias tidak sama dengan rating biasa. Kepentingan yg dimaksud tingkat kepentingan saat memberi rating. Ngasih rating ketika liat orang wajahnya ngeselin tidak terlalu berdampak ketimbang ngasih rating karena orang itu berbuat onar. Seperti sebelumnya, Rating pemberi nilai, karena vote ‘5 bintang’ dari orang rating tinggi lebih berharga ketimbang vote dari orang yg ratingnya rendah.

Level mengerikan berikutnya. Ketika elu tidak bisa menjaga emosi, misalnya terlanjur marah-marah ke pelayan restoran orang-orang sekitar bisa langsung ngasih rating 1. Terlebih lagi kalau dilaporin polisi bisa dapet hukuman pengurangan rating + double damage (rating 1 dikali dua). Seketika itu juga elu gak bisa ngapa-ngapain, ya karena mau naik kendaraan umum ada minimal ratingnya, mau deketin orang juga dijauhin. Lebih mengerikan daripada gunjingan ibu-ibu tukang gosip di kampung. Hahaha.

Tentu saja karena program ini mewajibkan kita untuk bersosialisasi. Orang introvert (sepertiku) ratingnya gak bakalan lebih dari 4 haha.

 

Video bebas royalti dan gratis


Setelah bagi-bagi info tentang musik gratis, kali ini saya mau berbagi tautan-tautan video gratis. Barusan nemu website Coverr.co isinya klip-klip pendek yang cocok buat filler video ataupun tampilan latar website.
Filler video ini, biasanya klip-klip yang disisipin dalam sebuah film ataupun video untuk memperkuat, memperindah ataupun mengisi waktu agar pace dalam video lebih mengena. Misalnya dalam video yang saya buat di sini, ada beberapa klip gambar daun-daun ataupun bunga yang sebenarnya kalaupun tidak ada juga tidak mengubah alur cerita. tapi dengan ada filler, video tersebut terkesan tidak buru-buru meskipun durasinya hanya satu menitan.
Dengan adanya video-video gratis, kita gak perlu mengambil klip-klip pendek, kita cukup mencari yang pas saja. Meski kalo saya pribadi lebih suka ngambil sendiri dan bisa lebih menyatu aja dengan video yang diambil.
Berhubung baru nemu satu. Maka tautannya ya cuman satu itu di atas. Jika ada yang punya info lainnya, sila tinggalkan komentar saja.

Our Times (2015)

https://i.ytimg.com/vi/0HGiG9z2m74/maxresdefault.jpg

Entah kenapa tiap kali nonton film dengan tema masa sekolah, selalu ada perasaan “yaelah gue dulu ngapain aja, gak punya kisah sekeren ini”. Tentu saja bukan film Indonesia, entah kenapa belum pernah ada film roman Indonesia yang memberi feel seperti itu, haha. Bukan juga Korea, justru film produksi Thailand dan Taiwan yang paling menyentuh dinding memori ngenesnya hidup ini. wkwk.

Salah satu film tersebut adalah Our Times. Buat yang suka film Thailand “A little thing called love” atau film Taiwan “You are the Apple of My Eye” harusnya bakal suka nonton film ini.

Our Times, membawa kita ke tahun 90an. Jadi buat yang pernah hidup di era 90an pasti merasa nostalgic mulai dari permainan sepatu roda, pager, dan kaset tape.

Dan yang lebih penting adalah adanya surat ‘kutukan’ berantai. Pasti anak 90an pernah tuh tau surat fotokopian yang kalo di daerah gue dulu isinya tentang Penjaga makam Nabi Muhammad gitu deh dan harus disebarkan ke tujuh orang lainnya. Pernah tau kan? Hal itu lah yang jadi premis awal film ini, memberikan kutukan pada salah satu tokoh utamanya.

eh tapi, dulu waktu gue dapet surat berantai ini, gue abaikan gitu aja. Jangan-jangan gue ngenes selama ini karena kena kutukan itu? wkwk

(8/10)

musik bebas royalti dan gratis

Pernah unggah video di Youtube kemudian kena pelanggaran hak cipta gara-gara musik latar? Saya juga pernah. Ya karena saat itu cuman video lipsync sih. Ya, jelas melanggar. hhha. Nah buat yang suka bikin video terus ngasih musik latarnya dari lagu-lagu terkenal pasti kena tuh. Apalagi sekarang jamannya ngevlog.
Saya juga sering pakai lagu orang lain buat konten saya di Soundcloud yang isinya sih cuman baca-baca prosa gitu. Setelah ngeliat beberapa vlogger yang peduli dengan hak cipta, ada yang beli (jelas horangkayah) ada juga yang pakai gratisan dengan lisensi Creative Commons, seperti lisensi blog saya ini. Vlogger ini membagikan tautan musik-musik gratis. Untuk sementara ini, saya hanya tahu dua situs.

  1. Bensound.com
  2. twinmusicom.org
  3. www.playonloop.com (gratis untuk versi pendek)
  4. freemusicarchive.org
  5. orangefreesounds.com
  6. www.purple-planet.com
  7. incompetech.com

Buat yang tahu, silakan tinggalin komentar buat ditambahkan di daftar ini. Buruknya pake gratisan adalah musik di konten kita jadi mirip dengan kebanyakan orang. Hahaha.

Sekarang jadi kepikiran untuk memperbarui konten di SoundCloud pakai lagu yang bebas royalti dan gratis.