None

Pertengahan tahun 2014 aku ikut job fair untuk kali pertama di sebuah kampus negeri. Salah satu kegiatan yang berakhir dengan kalimat “yaudalah”.  Contohnya ketika itu ada perusahaan ‘Sayap’ yang membuka banyak lowongan dan banyak sekali yang apply bahkan tempat tesnya masih di kampus yang sama. Banyak teman dari kampusku yang mendaftar ke situ, termasuk aku. Mereka mendaftar berbagai jabatan. Sementara aku tetap fokus dengan bidang IT. Dan beberapa temanku mendapatkan SMS untuk tes kerja keesokan harinya.

Besoknya aku kembali ke kampus yang sama, job fair masih beberapa hari berlangsung. Teman yang bareng aku, sedang ikut tes. Aku mendapati teman dulu di kantor juga ikut tes. Aku merasa heran kok aku gak dipanggil ya?

Setelah tes selesai, temanku mengajak kembali ke Job Fair untuk apply beberapa lowongan yang mungkin terlewat.

Lucunya, aku sempat menanyakan ke petugas perusahaan Sayap itu, “kok saya gak dipanggil tes ya?” lalu dijawab dengan karena pendaftarnya banyak maka dari itu tesnya bergilir.

Dan pada akhirnya tidak ada satupun panggilan yang masuk. Dari semua perusahaan yang aku apply di job fair itu. hahaha.

10 tahun ngeblog

kemarin adalah hari blogger nasional, yang berarti juga aku udah ngeblog 10 tahun.
tapi apaan dah. postingan terakhir aja hampir setahun yang lalu.
entahlah mau nulis apaan di sini. Lebih banyak tercurahkan di facebook. Mungkin beberapa ulasan film yang kutulis di facebook, aku pos ulang aja ke sini.
udah ah gitu aja.
god speed.

ada ironi dalam diriku

Aku sering kepikiran gimana kalo aku nggak kumpul sama teman-teman ini lagi. ngeliat fakta bahwa bapak atau ibuk nggak pernah tuh kontak-kontakan sama teman sekolahnya dulu atau teman lama. Kalopun ada jarang banget.
kadang ada ketakutan, gimana kalo teman-teman ini semua lupa sama aku. apalagi dulu waktu ikut ‘komunitas’ pas awal-awal kebentuk, kepikiran dan pengen ngomong ‘guys, kalopun nanti idola yang kita suka udah pensiun, kita harus tetep kumpul-kumpul ya’ atau ketakutan ketika mendekati kelulusan sekolah/kuliah, juga ketika selesai KKN di desa dengan berbagai teman dari jurusan lain. sampe pernah bilang “i will never find this complex team, dengan segala kemajemukannya” atau ketika ada kabar bahwa kolega akan resign. itu semua membuatku kepikiran. ketakutan. ?
ketakutan-ketakukan inilah yang membuatku kadang males pamit kalo pas kumpul-kumpul. Ada temen pernah nyeletuk ketika kumpul dalam sebuah event, ‘dia ini suka mendadak ngilang di tengah acara’. Aku sendiri nggak paham, haha, semacam ‘I-hate-to-say-good-bye’ karena kutahu sakitnya pepisahan ? #lohkokcurhat
Namun seiring berjalannya waktu, setelah perpisahan benar-benar terjadi. setelah mulai jarang kontak. Ketakutan-ketakutan itu berubah menjadi ‘bodoh-amat-mereka-lagi-ngapain-sekarang’ ??
Ironis memang. Membuat kalimat yang ingin diucapkan ketika perpisahan menjadi omong kosong. Tapi sekarang ini kalau ada ajakan kumpul dengan teman lama, sering mencoba sebisa mungkin untuk datang. mengutip perkataan teman, ‘jangan lupain temen, karena mereka aset’. Meski bagiku pribadi current friend (teman saat ini, yang sering ketemu, dekat, kontakan, misal teman kerja, tetangga) adalah yang terbaik.
Entah ini ngelantur apaan sih gue,
Engg..anggep aja kontemplasi akhir tahun. :D

Black Mirror S03E06: Hated in The Nation

Maaf ulasannya lompat tapi ini keknya lagi mengena khususnya yg lagi trending. Yang mau baca sebelumnya bisa cek posting sebelumnya.

Black Mirror S3 Eps 6: Hated in The Nation

[SPOILER ALERT!]

Settingnya tidak jauh dari masa depan, tapi gak jauh beda sama sekarang, dimana dengan entengnya orang-orang bisa menghujat orang lain yang berbuat kesalahan, misalnya artis yang membully orang miskin. Dengan mudahnya orang-orang tulis status di medsos “mati aja lo artis sampah!” atau “dasar artis vampir sarap!”
Mendadak di medsos ada akun anonim memposting sebuah video tutorial “Game of Consequences” yang isinya kalo benci sama orang cukup tulis status/twit “#DeathTo [nama_orang] [foto]” untuk voting dan orang yang dapet vote terbanyak konsekuensinya adalah ‘mati’. Wajar dong yang namanya manusia, banyak yang ikutan, meski cuman iseng atau cuman dengan dalih “di medsos gue bebas nulis apa aja”
Ternyata artis yang dimaksud mati beneran. ?
Hal itu terus belanjut hingga semua orang bisa jadi hakim (judge) dan menghakimi (tanpa ampun) orang yang (menurutnya) salah.
Tinggal update status doang coy!

Hingga akhirnya polisi menemukan cara untuk menghentikan permainan tersebut. Tapi ternyata konsekuensi yang dimaksud dalam “Game of Consequences” bukan orang yg mati karena voting justru hal itu cuman pancingan.
Yang menerima konsekuensi adalah orang-orang yang nge-voting. “Kalau elo pengen orang lain mati, elo juga harus siap mati juga”
Alhasil ada 300.000-an pengguna medsos yang mati, termasuk yang cuman iseng-iseng aja, padahal orang yg divoting/dihakimi baru 3 yang mati. hahaha. Syurem bukan?

*mendadak ngebayangi orang-orang yang lagi rame di medsos dan media berita itu mendapatkan konsekuensinya*
???

Black Mirror S03E01: Nosedive

Serial Black Mirror Season 3 ini Mindblowing banget. Serial tipe antologi jadi tiap episode punya cerita sendiri (jadi gak perlu nonton season sebelumnya). Tapi serial ini punya satu tema utama, ‘techno-paranoia’, tentang ketakutkan akan kemajuan teknologi (tidak jauh di masa depan) dan konsekuensinya.
Aku mau ceritain tiap episodenya (sehari sekali, ada 6 episode), Jadi yang nggak mau spoiler gak perlu dibaca hhh.

Episode 1. Nosedive.
Pernah denger ide program Rapor Warga-nya Ridwan Kamil? yang tiap warga Bandung bisa memberikan penilaian terhadap warga lain. Nosedive bercerita tentang ini tapi dengan teknologi yang lebih tentunya. Dimana semua orang bisa memberikan rating ke orang yang ditemuinya dengan nilai 1 sampai 5 bintang melalu ponsel. Semua warga pakai softlens jadi ketika memandang orang lain bisa muncul rating yang diperoleh orang itu. Dengan adanya program ini semua orang diharuskan bertindak ‘sopan’ dan hati-hati bahkan ke pelayan restoran sekalipun. Nyenggol orang lagi jalan aja bisa dapet rating 1 dari orang yg elu senggol. Jadilah suasana perkotaan yang damai dan semua warga saling menyapa dan ramah.

Nah, yang berbahaya adalah ketika rating itu jadi patokan ‘kelas’ seseorang. ‘Kelas’ tidak lagi diukur dengan uang/kekayaan saja. Jadi elu gak bakal bisa beli rumah di kawasan elit kalau ratingmu di bawah 4.5 meski punya duit. Gak boleh masuk gedung tertentu kalau ratingnya di bawah 3. Dan yang lebih parah tidak bisa berobat karena ratingnya rendah.

Hal yang mengerikan kedua adalah, adanya circle (lingkaran) pertemanan, orang-orang yang ratingnya tinggi tentu maunya berkumpul dengan yang rating sama tinggi. Dan yang rendah berusaha mati-matian berteman dengan yg rating tinggi, karena vote ‘5 bintang’ dari orang rating tinggi lebih berharga ketimbang vote dari orang yg ratingnya rendah.

Dari yang aku liat proses perhitungan ratingnya didasari 3 variabel: Anonymity, kepentingan, dan rating pemberi nilai. Anonymity, kita bisa memberi rating secara anonim tapi tentu saja nilainya lebih rendah alias tidak sama dengan rating biasa. Kepentingan yg dimaksud tingkat kepentingan saat memberi rating. Ngasih rating ketika liat orang wajahnya ngeselin tidak terlalu berdampak ketimbang ngasih rating karena orang itu berbuat onar. Seperti sebelumnya, Rating pemberi nilai, karena vote ‘5 bintang’ dari orang rating tinggi lebih berharga ketimbang vote dari orang yg ratingnya rendah.

Level mengerikan berikutnya. Ketika elu tidak bisa menjaga emosi, misalnya terlanjur marah-marah ke pelayan restoran orang-orang sekitar bisa langsung ngasih rating 1. Terlebih lagi kalau dilaporin polisi bisa dapet hukuman pengurangan rating + double damage (rating 1 dikali dua). Seketika itu juga elu gak bisa ngapa-ngapain, ya karena mau naik kendaraan umum ada minimal ratingnya, mau deketin orang juga dijauhin. Lebih mengerikan daripada gunjingan ibu-ibu tukang gosip di kampung. Hahaha.

Tentu saja karena program ini mewajibkan kita untuk bersosialisasi. Orang introvert (sepertiku) ratingnya gak bakalan lebih dari 4 haha.