Sayonara memories

Aku berjalan, memandangi langit yang tak berawan. Biru cerah. Lalu, teringat kamu dan tentang buku yang kujanjikan, tak kunjung tiba. Ah apakah mungkin ini saatnya mengucapkan selamat tinggal? Aku teringat hari-hari itu. Saat tawa dan canda mengisi cerita kita. Rasanya baru kemarin, Kita menapaki jalan ini. Jalan yang di akhir bulan Agustus akan kita temukan…

Tembok

ada tembok di sekelilingmu. Yang dulu aku percaya, suatu hari nanti bisa kurobohkan. atau motivasi lain, seperti kata Arai di Novel sang pemimpi: “aku hanya melempari tembok itu dengan tanah liat. apakah temboknya akan runtuh? ENGGAK!! Tapi akan membekas di sana. di hatinya.” dulu, aku percaya itu. mungkin sampai sekarang. mungkin. /// draft sejak 11…