Bugh!

Sebuah pukulan keras mendarat di pipi saya. Badan saya langsung terhuyung-huyung, seketika langsung jatuh ke lantai. Mulut saya  terasa amis. Darah. Rasa perih terasa di pipi saya. Genggaman erat tangan Rahne yang tidak berubah sejak kami bergandengan tangan tadi. Dia menahan tubuh pria yang memukul saya. Pria yang saya kenal betul. Malah mungkin Rahne lebih mengenal Pria itu. Dari hati ke hati.

“Bugh!!” Tendangan pria itu tepat mengenai perut saya.

“Udah Rey! lo ngapain nemuin gue lagi!” Rahne mendorong keras badan Rey. Reyhan Saputra. Mantan pacarnya Rahne. Atlet silat nasional dari perguruan pagar nusa. Personally, saya gak mau berurusan dengan atlet silat, selain karena tidak menyehatkan, saya hanya lah, atlet angkat silit tingkat RW dari perguruan pagar makan tanaman. sungguh berbeda.

“Ne! lo ngapain jalan sama cowok cupu kek dia?” Rey menujuk saya yang sedang tergeletak sambil meraba-raba mencari kacamata yang terlepas. “Please! Balik lagi ke gue, Ne!”

“plak!” tamparan keras tepat di pipi Rey. “brengsek! dulu lo ninggalin gue, sekarang mau balik lagi? PLAK!!” tamparan lebih keras dari Rahne, mendarat dengan sukses. Rey gak terima dia mengayunkan tangannya dan,

“Plak!” Tamparan Rey berhasil saya tahan, mengenai lengan saya. Rahne aman dalam dekapan saya. Tapi saya tidak bisa menjamin akan kuat menahan pukulan berikutnya. Tapi yang terpenting, Rahne tidak kenapa-napa.

“Anjirr lo, beraninya mukul cewek!” saya mendorong badan Rey. Gak ngefek. Saya sungguh lemah. Dan Reyhan memukuli saya.

Saya gak perduli sakitnya pukulan Reyhan. Yang penting adalah Rahne jangan sampe sedih. Saya gak kuat liat dia nangis lagi. Apalagi saya sudah janji sama mamanya untuk menjaga Rahne.

Pukulan keras sukses membuat kepala saya berkunang-kunang, sekelebat ingatan tentang saat suatu malam hari, ada telpon yang ternyata mamanya Rahne sedang menangis di seberang, menanyakan apakah saya bertemu Rahne hari ini.  Ya, mamanya pernah tau bahwa saya pernah dekat dengan Rahne. Bahkan rumah saya cuman berjarak 4 blok dari rumah Rahne. Dan terlebih lagi sekarang kami satu jurusan kuliah.

Rahne belum pulang malam itu. padahal seharusnya udah gak ada kuliah lagi. Aku dengar memang dia sedang ada bertengkar dengan Reyhan. hari sudah malam dan tampak hujan akan turun. Sangat bahaya jika Rahne belum pulang. Dan aku selalu tahu dimana sekarang dia, saat sedih.

“Masih suka ngeliatin ikan?” tanyaku sambil memayungi Rahne dari gerimis yang mulai turun. “Mama kamu nyariin kamu tuh. ih ngerepotin aja. Padahal lagi asik-asiknya maen CoD”

Rahne masih terdiam, tak mau menunjukan wajahnya. Lalu menggamit tangan saya. menyeret saya ke bangku taman di komplek perumahan ini.

percuma saja mengingatkan bahwa bangkunya basah karena hujan karena sekarang pundak saya basah karena tangisan Rahne. Lebih dari satu jam kami gak beranjak dari duduk dan hujan semakin deras.

“please let me stay longer…” pinta Rahne dengan suara yang hampir tenggelam di antara hujan, sambil merapatkan pelukan ke lengan saya dan membenamkan wajahnya.

Mereka putus. Entah apa sebabnya. Saya merasa senang karena bisa sedekat ini lagi dengannya. tapi saya lebih sedih saat dia bersedih. maka setiap haripun saja mengajaknya berangkat kuliah bareng. Katanya, dia merasa nyaman saat bersama saya. Dan saya berniat menyatakan cinta lagi, saat rasa sedihnya sudah hilang.

Rencana itu hari ini. dan hari ini Reyhan muncul di hadapan kami.

BUGH! pukulan tepat di pelipis kiri saya.

“Elo ngapain masih keras kepala aja… Rahne pacar gue!”

“Udah Rey, cukup!” Rahne menangis.

“Bilang ke dia dong Ne! bilang! gue mau balikan lagi ama elo Ne!”

BUGH! pukulan saya tepat di hidung Rey berhasil membuatnya sempoyongan.

“asuk! lo sialan ya.” Rey mencoba nendang tapi saya berhasil menghindar. “Rahne itu punya gue! dia udah gue pake!”

BUGH! Kali ini saya menedang perutnya. “Emang lo ke mana saat dia nangis? Gue selalu nemenin dia”

“Ne! gue mau balikan sama elo Ne! bilang monyet ini Ne!”

Bugh! “Lo kemana saat dia cinta-cintanya ama elo? lo malah pergi! Brengsek lo!” Berkali-kali pukulan saya ditepisnya

BUGH! BRAK! Rey memukul dan membanting saya.  “Dengerin Ne, gue mau tanggung jawab!”

Badan saya rasanya remuk. Rahne masih menangis. Saya berusaha berdiri. Membalas pukulan Rey sebelumnya. Saya gak terima dia bilang “dia udah gue pake” rahne bukan barang yang seenaknya dipake kemudian ditinggal dan sekarang mau dipake lagi.  Rey sudah tak kuat menepis pukulan saya. Pukulan ini akan tepat mengenai wajahnya.

“cukup Zar!” Rahne menarik tangan saya yang hampir mengenai Rey.

Bhummp, Rey berhasil melepar saya lagi tapi dia tidak kuat lagi untuk bangun.

“Maaf, Zar” Rahne masih sesegukan. “aku masih sayang dia”

BUGH! sebuah pukulan tak terlihat mengenai hati saya. Lebih perih.

Kemudian gelap.

===============
vachzar 20130525

*gambar dari sini
dan di bawah ini dibuang sayang. hehehe. aslinya flashbacknya kek gini. tapi jadi kepanjangan.
[spoiler show=”Show : Dibuang sayang”]
“Halo? Zarry?” Suara di seberang telepon.
“I-iya, maaf siapa ya?”
“Ini aku, mamanya Rahne, kamu satu jurusan sama dia kan?”
“Iya tante. ada apa ya?” wak! gimana bisa mamanya Rahne tau nomor hape saya. Meskipun kami satu perumahan, beda beberapa blok, Kami hanya saling tau saja. Dan ya selain fakta bahwa saya pernah dekat dengan Rahne saat kami satu sekolah SMA dulu.
“Kamu tau Rahne dimana? udah jam segini dia belum pulang” suara serak penuh cemas terdengar. Saya jadi ikutan khawatir dengan rahne.

“harusnya hari ini, dia udah pulang siang tadi, Tan. soalnya kebetulan hari ini jadwal kami sama”

“Aku sudah tanya temennya, Vivi, juga gak ada yang tau, dia malah ngasih nomor kamu ini.” ah Vivi sialan, kadang suka nyesel kalo pernah curhat sama dia. Tapi karena dia saya bisa tau kabar Rahne yang lagi pacaran sama Reyhan. Ah, Reyhan.

“Ah, iya Tan. Mungkin lagi sama Reyhan”

“Reyhan? kamu kenal dia gak?”

“Aduh gak punya, Tan. Maaf”

“ah, ya sudahlah, maaf ganggu kamu malem-malem ya.”

“Iya Tan–”

KLIK! TUT TUT TUT. telpon ditutup.

Jam sudah menunjukan jam 8.30, dan malam ini tampak lebih gelap, langit mendung, sesekali terlihat kilat di balik jendela. Saya ingat kalo Rahne benci hujan. Dan saya mungkin tau dia sekarang ada di mana. Tempat favoritnya sejak masuk kuliah.
[/spoiler]

One thought on “Bugh!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

[+] kaskus emoticons