Our Times (2015)

https://i.ytimg.com/vi/0HGiG9z2m74/maxresdefault.jpg

Entah kenapa tiap kali nonton film dengan tema masa sekolah, selalu ada perasaan “yaelah gue dulu ngapain aja, gak punya kisah sekeren ini”. Tentu saja bukan film Indonesia, entah kenapa belum pernah ada film roman Indonesia yang memberi feel seperti itu, haha. Bukan juga Korea, justru film produksi Thailand dan Taiwan yang paling menyentuh dinding memori ngenesnya hidup ini. wkwk.

Salah satu film tersebut adalah Our Times. Buat yang suka film Thailand “A little thing called love” atau film Taiwan “You are the Apple of My Eye” harusnya bakal suka nonton film ini.

Our Times, membawa kita ke tahun 90an. Jadi buat yang pernah hidup di era 90an pasti merasa nostalgic mulai dari permainan sepatu roda, pager, dan kaset tape.

Dan yang lebih penting adalah adanya surat ‘kutukan’ berantai. Pasti anak 90an pernah tuh tau surat fotokopian yang kalo di daerah gue dulu isinya tentang Penjaga makam Nabi Muhammad gitu deh dan harus disebarkan ke tujuh orang lainnya. Pernah tau kan? Hal itu lah yang jadi premis awal film ini, memberikan kutukan pada salah satu tokoh utamanya.

eh tapi, dulu waktu gue dapet surat berantai ini, gue abaikan gitu aja. Jangan-jangan gue ngenes selama ini karena kena kutukan itu? wkwk

(8/10)

Immortal Beloved (1994)

Siapakah orang yang disayangi oleh Ludwig van Beethoven? Immortal Beloved mengajak kita mengikuti perjalanan Anton Felix Schindler, sahabat sekaligus sekretaris Beethoven, dalam mencari penerima surat wasiat setelah kematian Beethoven. Kita diajak mendengarkan cerita dari orang-orang yang pernah dekat dengannya. Tak banyak memang, layaknya orang jenius kebanyakan, dia punya sifat arogan yang membuat orang benci-benci suka kepadanya.

Film ini memanjakan telinga kita dengan iringan komposi-komposi Beethoven sekaligus menyiksa saat kita dipaksa untuk mendengarkan dengan telinga Beethoven. Hening. Iya, lebih dari setengah masa berkaryanya dalam keadaan kurang pendengaran hingga tuli total. Dalam keheningan itu kita dipaksa mengikuti bayangan imajinasi musik Beethoven dalam bentuk visual.

Sedikit bingung ketika banyak sekali nama untuk Beethoven, yang ternyata sebenarnya arti atau maksudnya sama. Dalam beberapa adegan Beethoven dipanggil dengan Ludwig, Louis, dan Luigi, yang setelah saya googling ternyata sama saja. Karena setting lokasi yang berbeda-beda, antar negara itulah yang menyebabkan perbedaan. Ludwig untuk wilayah dengan bahasa Jermanik, Louis Perancis, dan Luigi Itali (CMIIW).

(8/10)

The Machinist (2004)

http://www.asset1.net/tv/pictures/movie/the-machinist-2004/machinist-the-DI-3-1.jpg

The Machinist. Udah lama tau judul film ini dari 9gag tentang perubahan tubuh Christian Bale dari tahun ke tahun. Di The Machinist berat dia hanya 55kg banyangkan setahun kemudian badannya jadi kekar 98kg ketika maen di Batman Begins.

Film ini sakit bener. Meskipun plotnya tidak terlalu rumit. Tapi kita dibawa dalam suasana orang yang tidak bisa tidur dalam setahun. Awalnya saya pikir skizofrenia tapi ternyata emang efek kurang tidur bisa sama.

(7.7/10)

Ore Monogatari Live Action (2015)

http://i.kinja-img.com/gawker-media/image/upload/s--Y2J5ElfW--/c_scale,fl_progressive,q_80,w_800/1533030590141944645.jpg

Akhir-akhir ini banyak anime-anime sukses yang langsung diangkat menjadi Live Action di tahun yang sama. Padahal dulu jarang ada anime dan live action yang berbarengan. Malah biasanya kalo udah jadi anime gak ada live actionnya ataupun doramanya, begitu juga sebaliknya, kalaupun ada jaraknya pasti jauh dan kadang semacam reboot. Sekarang enggak begitu, dan sedihnya adalah selalu terkesan dragging dan seolah-olah jadi rangkuman satu musim anime. Contohnya adalah Attack on Titan dan Ansatsu, kedua LA ini gagal menurut saya. Kiseijuu meskipun alurnya mengikuti animenya, tapi cukup bagus karena tidak mengganggu jalan cerita, terlebih lagi terbantu dengan dibagi menjadi 2 film.

Ore Monogatari, lebih bagus lagi. jalan ceritanya dibuat senyaman mungkin, dan beberapa adegan dibuat berbeda dengan yang ada di anime. Plot dalam film ini hanya 1/4 dari 24 musim animenya. Ditambah lagi yang jadi Yamato Rinko lucu aduhay, adek Mei Nagano yang sekilas-kilas mirip Haruka Ayase. Dan saya baru nyadar kalo yang jadi Goda Takeo adalah Pemeran utama di film Hentai Kamen. Pangling bener, makeupnya keren dan mirip banget dengan Goda Takeo di anime dan manga.

Mungkin kalo dijadikan dorama lebih bikin ngangenin.

(7,5/10)

Xiao Men Shen (2016)

https://s3.amazonaws.com/content.tiff.net/content/carousel/21b9a48a2c71689757cf455c555c8b6c.jpg
Rekomendasi animasi 3d non-Hollywood dari China. Xiao Men Shen (2016) atau Dewa Pintu Kecil. Berkisah tentang di zaman modern saat ini, orang-orang sudah mulai melupakan tradisi terutama kepercayaan terhadap dewa-dewa. Alhasil di dunia roh, banyak roh dan dewa yang nganggur. wkwk. Salah satunya Dewa Pintu Kecil yang tugasnya menjaga rumah-rumah orang. Karena hampir semua orang tidak memasang posternya di pintu, mereka jadi terancam dipecat dari tugasnya sebangai Dewa.
Banyak detail yang mengambil dari tradisi China, misal ternyata kembang api fungsinya digunakan untuk mengusir roh jahat. Dan hal lainnya yang dijadikan bentuk imajinatif. Sebenarnya kalau mau, Indonesia dengan berbagai macam budaya dan tradisi bisa bikin film sejenis ini dengan memaksimalkan imajinasi. Ironisnya yang selama ini hanya menceritakan kembali dengan medium yang berbeda saja. Jadi kalo udah tau ceritanya, liat animasinya sama aja. wkwk. Kalo yang pernah liat film2 dari Studio Gibli pasti tau imajinasi film2nya pasti “nyeleneh banget”
Ceritanya simpel dengan plot sederhana. Namanya juga film anak-anak.
(7/10)