Sayonara memories

Aku berjalan, memandangi langit yang tak berawan. Biru cerah. Lalu, teringat kamu dan tentang buku yang kujanjikan, tak kunjung tiba. Ah apakah mungkin ini saatnya mengucapkan selamat tinggal? Aku teringat hari-hari itu. Saat tawa dan canda mengisi cerita kita. Rasanya baru kemarin, Kita menapaki jalan ini. Jalan yang di akhir bulan Agustus akan kita temukan…

Sebuah obrolan absurd dengan teman

“kamu punya bakat menawan yang mampu menawan hati para gadis.” Tapi apa hatimu akan tertawan? Aku sendiri tak yakin, tiap ketukan jariku di keyboard ini bisa mengetuk sedikit pintu hatimu untuk terbuka dan kusinggahi?

aku tau (masalah) kamu

“Kamu kenapa lagi?” Tanyaku pada Icha yang masih sesegukan di sudut kamar kosku sambil membenamkan wajahnya pada bantal favoritnya. Entah sejak kapan dia punya hobi seperti ini. “gara – gara … hiks … hiks… hwaaaa” Wajahnya semakin tenggelam dalam bantal. Aku jadi punya kerjaan tambahan, menjemur bantal itu besok. “Pasti gara-gara Re? ya kan?” “kok-kok…

unreachable

Dia di sana, duduk di bangku baris pertama, dan aku selalu duduk baris paling belakang di dalam angkot perjalanan pulang dari sekolah. Angkot minibus yang sering disebut elf atau bison ini bagian terbagi tiga baris kursi dan satu baris yang menghadap ke belakang. Spot favoritku adalah baris ketiga paling kiri dekat jendela dan pintu keluar….

kutipan hari ini

Ketika tak ada yang perlu dilakukan, ya jangan ngapa-ngapain! – Pepatah Kuno diambil dari buku ‘Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya – Ajahn Brahm’ ——— gambar dari sini : http://tokelapunye.deviantart.com/art/RELAX-104752424