Salat Dhuha

Categories: Celoteh

Karena dulu sekolah di Madrasah, jadinya tahu berbagai macam jenis solat sunnah. Tapi tentu saja jarang atau bahkan hampir tidak pernah dilakukan. Salah satunya, salat Dhuha.

Baru ketika awal SMA, bisa dibilang hampir setiap hari melakukannya, tapi itu karena ada semacam buku jurnal yang wajib diisi. Beberapa teman melakukan manipulasi dengan teman lainnya. Beberapa lagi tetap salat meskipun hanya untuk menyelesaikan “tugas”.

Aku pun demikian, salat dhuha setiap hari, bahkan lebih dari 2 rakaat tiap harinya (salat dhuha maksimal 12 rakaat). Lucunya, aku tidak pernah membaca doa setelahnya. Tidak hafal dan tidak mencoba menghafal. Padahal menurut guru, salat ini dan doa setelahnya adalah pembuka pintu rejeki.

Waktu pun berlalu, kadang aku masih suka heran ketika ada teman yang sedang salat ini dan berguman, hmm, percuma kalau gak berusaha juga rejeki gak datang. Sebegitu pesimisnya aku saat itu.

Hingga pada akhir 2018, ketika aku sudah merasakan tanda-tanda ketidakberesan pada kantor lamaku. Saat itu aku mencoba mencari pekerjaan baru, dan di antara waktu itu, aku menyadari, bahwa usaha ini sangat kurang kalau gak dibantu doa. Juga, aku baru sadar, kalau rejeki yang didapat bukan berbentuk materi secara langsung.

Jadi selain berusaha (mencari berbagai bentuk pekerjaan), aku mulai salat dhuha, cukup 2 rakaat saja setiap hari. Karena aku tidak hafal doa setelahnya maka aku membuka browser hp sambil membacanya. Aku terus mencoba konsisten meski pada akhirnya perusahaan tempatku bekerja akhirnya memutuskan untuk “menutup” kantornya. Dan aku pun hanya bergantung pada pekerjaan freelance yang untung saja masih ada.

Entah sudah berapa bulan, aku akhirnya bisa hafal doa setelah salat dhuha. Memang salah satu cara menghafal sesuatu adalah mengulanginya berkali-kali. Saat itu juga aku mulai percaya, bisa bertahan selama ini pun, termasuk sebuah rejeki. Lebih-lebih apa yang kuharapkan terwujud juga, pekerjaan baru. Tidak terlalu wah, tapi setidaknya cukup untuk istriku dan keluarganya. Juga, Ibukku yang sepertinya mengharapkan anaknya dari dulu mendapatkan pekerjaan seperti ini.

Aku menulis ini saat dunia ini dalam masa pandemi. Saat mulai jarang lagi salat dhuha karena pekerjaan dan kemalasan. Mungkin pandemi ini menjadi pengingat semua orang untuk kembali pada-Nya. Salah satunya melalui salat dhuha.

«
»

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *