Yang Tersisa

“Selamat Datang, Selamat berbelanja di Indomart” kalimat itu, yang setiap dua hari sekali saya denger sepulang kerja, terdengar lembut sekali dari bibir manisnya. Gadis pramuniaga itu tersenyum ramah menyapa setiap pengunjung yang datang ini. Alih-alih berbelanja, saya sebenarnya lebih banyak mencuri pandang wajahnya atau berpura-pura bingung memilih di antara dua pilihan Indomie rasa baru, sampai-sampai dia mendatangi saya “Ada yang bisa dibantu, mas?”
“Eh iya, ini rasa baru lebih enak gak si sama yang rasa sebelumnya”
“oh, yang baru ini enak mas, rasa ayam panggang, jumbo lagi.” Jelasnya dengan senyuman. Maut.
Hubungan saya dengan dia selalu terbatas antara pelanggan dan pramuniaga padahal saya ke sini 2 hari sekali, mencuri pandang, dan berusaha sesekali bisa mengobrol dengan dia. Apakah itu tidak cukup memberikannya sinyal bahwa saya tertarik padanya?
Selama 3 bulan terakhir ini, semenjak dia kerja di sana, dia telah berhasil membuat saya menguras dompet, dan kamar kos saya yang pernuh dengan kaleng susu bear brand, yang selalu jadi alasan saya mengunjungi Indomaret itu. apakah dia tidak cukup paham dengan sinyal saya?
hari ini seharusnya saya mengukapkan perasaan saya! harus!
sebelum saya miskin mendadak.
tapi dia tidak ada di sana.
dia telah dipindahtugaskan.
dia meninggalkan hati.
hingga tak ada asa.
yang terisa.
———-
vachzar. 13.09.2012

One thought on “Yang Tersisa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

[+] kaskus emoticons