Ara

street-lamp-392095_640[1]

Untuk kesekian kalinya saya membuat pseudonym, untuk mengganti nama seseorang yang telah dan mungkin akan tertulis di sini atau diceritakan di suatu sesi curhat. Kalau ada yang membaca blog ini awal dulu, pasti menemukan nama Si Putih dan Chupyd lalu beberapa tahun kemudian saya mengubah nama-nama itu menjadi Yorin dan Niah. Iya, bahkan pseudonym-pun berganti-ganti kayak alay. Kali ini saya membuat nama baru untuk seseorang. Seseorang yang setahun belakangan namanya tertulis di blog ini. Kadang berupa nama asli, kadang si pacar, kadang juga panggilan sayang, bebeb.

Ara, itulah namanya. Jangan tanya kenapa harus Ara. Toh nama panggilan dia yang lain menjadi sebutan ‘sayang’ oleh kekasih barunya. Lagipula sejak perpisahan itu, aku ingin sekali menjadikan dia sebagai ‘Ara’, nama yang pernah kutemukan di sebuah novel yang berperan sebagai teman dekat tokoh utama. Aku ingin kami tetap berteman. Teman yang meneduhkan seperti pohon Ficus roxburghii, nama lain pohon ara,

Lalu dengan begini aku bisa menjadikan dia sebagai kenangan yang akan bercampur dengan imajinasi, yang ceritanya akan masih mengisi blog ini. Entah, mungkin hingga bisa kutemukan Ficus roxburghii yang lebih meneduhkan.

You may also like...

1 Response

  1. arie prastyo says:

    kenapa harus Ara kak? kenapa gak ARI saja?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *