wajahmu

Lama saya mengagumimu. sejak kali pertama saya melihatmu. di sini, tempat saya berdiri. di sebuah tempat yang disebut kelas kursus. awalnya, saya tak yakin bahwa kamu akan sudi memandang saya, sekali saja. tapi sungguh ternyata kamu adalah wanita yang baik, setidaknya kamu mau menjadi teman saya.

saya ingat, saat kita saling ber-sms ria. bercanda tawa. berdiskusi mulai dari hal yang penting: apakah barack obama bisa menjadi president yang baik? hingga yang tidak penting: mengapa kotoran itu bau? dan jawaban dari semua itu hanya kamu. iya kamu, tidak lah perlu barack obama menjadi presiden untuk membuat saya bahagia. Dan kotoran itu bau karena yang wangi itu kamu. kamu adalah pengharum ruang jiwa saya, yang telah lama kosong.

di sudut kelas, saya tak dapat mengalihkan pandangan dari wajahmu. di tempat kamu duduk itulah satu-satunya hiburan dalam pelajaran bahasa Inggris yang membosankan. sesekali kamu menoleh dan seketika itu lah saya memalingkan wajah ke arah yang membosankan: papan tulis.

dan detik ini saya terlambat, kamu memergoki saya yang sedang asik memandangi ciptaan tuhan yang satu ini: wajahmu. kamu menjulurkan lidah yang mendapati saya yang salah tingkah. wajahmu menggesturkan penuh arti “bosen banget ya?”

Saya pun tersenyum bertanda setuju. kamu ikut tersenyum manis sekali, legit. kini saya berharap kita ada di sebuah taman, berdua. dipayungi berjuta gemintang, dengan penerangan sang bulan. di situ kita bercanda bersama tanpa ada yang mengganggu dan tak ada hal yang membosankan, karena tiap detik akan terasa sangat berarti.

Ah, tidak! kamu berpaling wajah dari saya, kemudian menoleh kearah yang berlawanan. sehingga saya hanya bisa melihat punggungmu yang terhiasi jatuhan rambutmu. kamu berbicara dengan seorang teman, teman saya juga, seorang cowok.

kalian tampak akrab dan sepertinya lebih akrab dari kita. kulihat sepasang matamu tak jera memandangi wajahnya seperti sepasang mata saya yang terus mengamatimu.

saya ingin kelas ini cepat bubar dan agar sepasang mata saya tidak teriritasi oleh sepasang matamu yang bersinar-sinar melihatnya.

kelas selesai dan kita sama-sama berada di depan gerbang. Sebenarnya saya sudah mempersiapkan sesuatu untuk mengungkapkan rasa yang terendap di hati saya. namun sepertinya takkan semulus ini.

Sebenernya~~” kata saya dan kamu hampir bersamaan.

“ladies first” ujar saya.

“kamu kenal dia kan?” kamu menunjuk teman saya “kamu sahabatnya kan?”

“iya, emang kenapa?”

“tolong bantuin aku.. sebenernya aku~~” kamu menggantungkan kalimat dan memaksa saya mengerti maksudmu. Ah wanita memang memiliki gengsi sebagai kulit kedua mereka. saya menangkap maksudmu dan mengangguk.

kamu tersenyum manis tanpa mengerti bahwa saat itu lah terakhir kali kita bertemu.

hingga saat ini…. tujuh tahun kemudian.

tempat kursus terlihat usang, karena telah berpindah tempat kantor. bangku-bangku terlihat reyot dimakan rayap. Saya melihat tempat favorit saya, bangku ketiga dari depan karena di situ lah saya dapat memadangi wajahmu dengan leluasa dan sudut yang pas.

di tembok masih terlihat coretan-coretan saya yang memuji kamu. saya kembali mengenang cerita cinta. cerita cinta yang biasa, mungkin tragis malah.

saya kembali kesini karena suatu hari, saya melihat account friendster saya, yang sudah lama tak pernah dibuka. saya buka friendsternya adik saya, hmm, sebenarnya mantan saya, mantan membuat mata dan hati saya buta. Kamu pasti mengenal dia bukan? ya dia adalah sahabat kecilmu. setelah mundur darimu, saya mendekatinya. ironisnya, kamu dari dulu menjodohkan saya dengannya tanpa tahu bahwa saya sebenarnya suka kamu.

saya lihat di friendsternya ada sebuah komen dengan nick “Adhek ^__^” dan saya lihat primary fotonya sangat familiar. serasa saya kembali ke masa tujuh tahun silam dimana indahnya rasa baru mengenal cinta.

saya amati hingga mata ini pedas teradiasi monitor yang rusak. dan saya yakin itu adalah foto kamu. wajahmu tetap secantik bunga Gardenia jasminoides

yang tumbuh indah di antara alang-alang liar di tanah lapang. saya teringat dulu saya pernah memberikan bunga itu. tapi kamu tak pernah tahu arti bunga itu. harusnya kamu sekarang tahu.

penasaran dengan Friendster itu, aku buka photo albumnya. saya melihat banyak foto-fotomu, membuat hati ingin menculiknya dan menyimpannya di dalam kamar hati, membingkainya dengan bingkai tulang belulang saya.

saya lihat salah satu foto. kamu duduk dibawah pohon rindang dengan senyuman yang sangat mengoda membuat kelenjar testoteron saya mengelepar seperti ikan yang berada diluar kolam, megap-megap tak bernafas.

jika saja sejak dulu kamu tahu, mungkin saya ada di sampingmu pada foto itu. namun ah sudahlah.

saya tanpa sengaja membaca komentar di Friendstermu dan saya temukan pesan dari teman kita dulu.

“hey kapan2 reuni yuk, besok aja ya hari kamis…..”

Saat itu juga saya langsung kembali dari kota L’Aquila menempuh waktu berjam-jam. membuang semua kesempatan karir dan semua harapan orang tua. melukai seorang wanita yang rela membelah bulan demi saya. Untuk ada di sini. hanya untuk melihat senyumanmu.

Ternyata rombongan reuni itu berada di rumah sebelah. terlihat banyak sekali yang datang. saya membaur ke dalamnya. mencari-cari dirimu. saya hafal harum dirimu hingga menuntun saya menemukanmu.

Untuk kesekian kali, pandangan saya menemukanmu lagi. kamu masih seperti dulu, manis dan menggemaskan. Ya, Setidaknya pasti ada kesempatan sekali lagi untuk menikmati wajah Gardenia jasminoides-mu.

Sekalipun harus berusaha tetap kuat melihatmu yang duduk manis dan bercanda tawa dengannya.

(09.00 am 15/12/2008)

2 thoughts on “wajahmu

  1. dari kata-kata “hingga saat ini…. tujuh tahun kemudian…” mpe abis, ak jadi nggak ngonect ma ceritany mas ..
    maksudny ap sih ?

  2. hhehe
    aku juga pusing kalo mikirin bagian itu…
    gini aja:
    plot awalnya kan cerita tentang masa lalu, nah yg bagian hingga saat ini itu waktu saat ini….
    ribet juga jelasinnya soalnya aku juga asal aja nulisnya….
    hehehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

[+] kaskus emoticons